Kamis, 10 Desember 2009

Cegah Anemia dengan Vitamin B12

Vitamin B12 merupakan vitamin yang hanya terdapat pada produk hewani seperti daging, susu dan telur. Kekurangan vitamin B12 bisa membuat Anda terkena anemia atau sering disebut kekurangan darah yang sebenarnya kekurangan folat.

Hal itu karena tanpa vitamin B12, folat tidak dapat berperan maksimal dalam pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin B12 dibutuhkan untuk melepaskan folat, sehingga dapat membantu pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin B12 juga sangat penting dalam proses pembentuk sel darah dan pertumbuhan sel-sel lainnya. Selain itu memelihara lapisan yang mengelilingi dan melindungi syaraf.

Tidak seperti vitamin lain yang larut pada air, vitamin B12 ini tersimpan pada hati, ginjal dan jaringan-jaringan. Sehingga gejala kekurangan vitamin B12 sering baru terlihat lima atau enam tahun kemudian. Selain anemia, kekurangan vitamin B12 berdampak buruk pada sistem syaraf, membuat kulit sangat sensitif dan mudah keriput.

Vitamin B12 ini bekerja bersama substansi yang terdapat pada perut sebagai faktor intrinsik. Faktor intrinsik inilah yang mengikat substansi dengan vitamin B12 agar terserap oleh tubuh. Semakin bertambahnya usia, membuat substansi dan sel pada perut pembentuk faktor intrisik berkurang.

Hal ini berakibat menurunnya penyerapan oksigen pada sel dan bisa memicu depresi dan lelah otot. Jadi, mulai dari sekarang penuhi kebutuhan vitamin B12 dengan mengonsumsi produk hewani. Jika Anda tidak suka dengan produk hewani atau vegetarian, bisa mengonsumsi suplemen vitamin B12 yang banyak dijual di pasaran.


sumber: VIVAnews

Turunkan Tekanan Darah Secara Alami

Tekanan darah tinggi jika dibiarkan saja bisa menimbulkan stroke. Bagi Anda yang memiliki kecenderungan darah tinggi, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menstabilkan tekanan darah. Selain mengonsumsi obat pengontrol tekanan darah, ada cara lain yang lebih alami.

- Berjalan kaki
Pasien hipertensi dianjurkan untuk berjalan kaki setiap hari minimal 30 menit. Akan lebih baik jika saat berjalan juga membawa sedikit beban seperti dumbell. Berjalan kaki dan olahraga membantu jantung menggunakan oksigen secara efisien, sehingga tidak bekerja keras untuk memompa darah.

- Tarik nafas perlahan
Usahakan untuk nafas secara perlahan, tidak tersengal-sengal dan lebih teratur. Anda bisa berlatih yoga, atau tai chi agar nafas lebih teratur. Saat pagi dan sore hari, selama lima menik tarik nafas secara dalam dan buang secara perlahan. Hal tersebut bisa menurunkan renin, yaitu enzim pada ginjal yang bisa meningkatkan tekanan darah.

- Konsumsi makanan kaya potasium
Menurut Linda Van Horn, PhD, profesor dari Northwestern University Feinberg School of Medical, Amerika Serikat, mengonsumsi makanan yang banyak mengandung potasium tinggi dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Usahakan untuk mengonsumsi potasium 2000 hingga 4000 mg per hari. Makanan yang mengandung potasium tinggi antara lain kentang, tomat, pisang, kacang polong dan jeruk.

- Batasi konsumsi sodium
Beberapa orang sangat sensitif ketika mengonsumsi garam atau sodium. Konsumsi garam yang berlebihan bisa memicu darah tinggi. Konsumsi garam atau sodium per hari sebaiknya tidak lebih dari 1.500 mg (takaran setengah sendok teh mengandung 1200 mg garam). Jadi kurangi konsumsi garam, agar tekanan darah tetap stabil

- Konsumsi cokelat hitam

Cokelat hitam atau dark chocolate mengandung flavanol yang bisa membuat pembuluh darah menjadi lebih elastis. Sebuah penelitian menunjukkan pasien yang mengonsumsi coklat hitam 0,5 ons setiap hari, tekanan darahnya menurun cukup signifikan.


sumber: VIVAnews

Es Krim Bisa Mengontrol Otak

Makanan lezat seperti es krim ternyata bisa mengontrol otak Anda. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari UT Southwestern Medical Center di Dallas, Amerika Serikat, menemukan bahwa lemak dari makanan seperti es krim dan burger bisa mengontrol otak manusia.

Molekul lemak dari makanan bisa memicu otak untuk menyampaikan pesan pada sel-sel tubuh untuk mengabaikan sinyal penekan nafsu makan dari hormon leptin dan insulin. Kedua hormon tersebut berperan besar menentukan berat badan.

"Secara normal, tubuh kita akan mengirimkan sinyal "kenyang", ketika merasa cukup makan. Tetapi, hal itu sering tidak terjadi jika kita mengonsumsi makanan lezat yang berlemak tinggi," kata Deborah Clegg, salah satu peneliti, seperti VIVAnews kutip dari MSNBC, Senin 2 November 2009.

"Melalui penelitian ini dapat terlihat reaksi kimia pada otak seseorang dapat berubah dalam waktu singkat. Dengan kata lain, jika Anda mengonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi otak akan terkontrol oleh molekul lemak dan kebal terhadap leptin dan insulin," tambah Deborah.

Peneliti juga menemukan tipe lemak yang bisa mengontrol otak. Lemak tersebut bernama palmitic acid yang ditemukan pada daging sapi, mentega, keju, dan susu. Lemak tersebutlah yang mengontrol otak Anda, untuk tetap mengonsumsi makanan lezat meskipun sudah merasa kenyang.

Penelitian yang dilakukan pada tikus ini dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Investigation. Para peneliti menekankan untuk membatasi konsumsi lemak palmitic acid karena bisa merusak sinyal "kenyang" pada tubuh.

sumber: VIVAnews

Fruktosa Picu tekanan Darah Tinggi

Anda harus semakin hati-hati mengonsumsi makanan manis, sirup atau minuman bersoda. Hal itu karena tidak hanya memicu tingginya kadar gula dalam darah tetapi juga bisa meningkatkan tekanan darah.

Fruktosa yang terdapat pada banyak makanan dan minuman manis, menurut penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Colorado Denver Health Sciences Center, bisa memicu tekanan darah tinggi. Peneliti juga menemukan hubungan antara konsumsi fruktosa dengan obesitas.

Penelitian tersebut melibatkan 4.528 orang dewasa yang tidak memiliki riwayat penyakit darah tinggi. Jumlah konsumsi fruktosa para responden diteliti dan yang mengonsumsi lebih dari 74 gram per hari, tekanan darah tingginya meningkat antara 28% hingga 87%

“Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi fruktosa yang tinggi, dapat meningkatkan tekanan darah secara signifikan. Dan, hal itu terjadi pada orang-orang yang tidak memiliki riwayat darah tinggi," kata Dr. Diana Jalal, salah satu peneliti, seperti vivanews kutip dari HealthDay, Rabu, 3 November 2009.

Diana juga mengungkapkan dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh apa pembatasan konsumsi fruktosa berpengaruh pada penurunan tekanan darah. Hal itu untuk mengetahui apakah mengurangi konsumsi fruktosa bisa berefek pada penurunan tekanan darah secara signifikan.

 sumber: VIVAnews

Turunkan Kolesterol dengan Belimbing

Meskipun, bukan buah musiman, belimbing memang tidak sepopuler buah lainnya. Tidak seperti apel, pir, mangga, anggur, dll, buah yang kandungan airnya tinggi ini jarang tersedia di meja makan sebagai hidangan penutup.

Padahal, menurut Subdit Teknologi Pengolahan Hasil Hortikultura, Departemen Pertanian, buah yang bila diiris melintang berbentuk mirip bintang ini memiliki kaya khasiat. Belimbing merupakan sumber vitamin C, A, kalium dan banyak mengandung serat makanan. Zat gizi ini bermanfaat sebagai antioksidan, menjaga kenormalan fungsi saluran pencernaan, serta menurunkan kolesterol.

Pasalnya, pada dinding sel belimbing terdapat pectin, yang merupakan bahan pembentuk gel di dalam usus. terbentuknya gel tersebut mempunyai pengaruh menurunkan kolesterol. Dalam hal ini pectin mengikat kolesterol dan asam empedu dalam usus serta mendorong pengeluarannya.

sumber:  VIVAnews

Anak Obesitas Akibat Penghapusan Kromosom

SEBAGIAN anak-anak obesitas seharusnya tidak mengalami hal tersebut hanya karena "kebaikan" orangtuanya. Faktanya, mereka tak bisa berhenti makan akibat penghapusan kromosom hingga mereka selalu merasa lapar.

Demikian menurut Associated Press (AP), seperti dilaporkan MSNBC. Dikutip dari Nydailynews, Rabu (9/12/2009), para peneliti Inggris menguji 300 DNA anak-anak usia 10 tahun yang berat badannya sekira 220 pon (kurang lebih 110 kilogram).

Para peneliti mencari salinan tambahan atau penghapusan segmen DNA. Dan ditemukan terjadi penghapusan beberapa kromosom langka yang memberi kontribusi terhadap obesitas.

Mereka menemukan penghapusan kromosan 16 yang ditemukan kurang dari 1 persen pada sekira 1.200 anak-anak sangat obesitas. Masalahnya, hal tersebut menghilangkan gen yang diperlukan otak untuk merespons hormon pengendali nafsu makan.

Demikian penjelasan Dr Sadaf Farooqi, co-leader peneliti dari Cambridge University, seperti dilaporkan AP. Penelitian telah dilaporkan secara online pada Journal Nature.

Anak-anak yang kromosom 16-nya terhapus, Farooqi mengatakan, "Memiliki hasrat makan yang sangat kuat. Mereka sangat, sangat lapar dan selalu ingin makan."

Hasil penelitian ini menawarkan informasi berharga, menurut ahli obesitas Eric Ravussin dari the Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, Louisiana. Ravussin, yang tidak tergabung dalam penelitian, mencatat bahwa hasil kajian baru ini memberi gambaran area kromosom-kromosom tertentu yang kini bisa dikaji oleh para peneliti untuk menemukan hubungan obesitas dengan gen-gen dalam tubuh.

sumber: okezone.com

Waspada, Diabetes Mellitus Mengintai!

DIABETES MELLITUS (DM), yang dikenal masyarakat sebagai penyakit gula atau kencing manis terjangkit pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan insulin atau reseptor insulin yang tidak berfungsi baik.

"Penderita diabetes adalah orang dengan keadaan gula darah tinggi, yang diakibatkan oleh insulin tidak berfungsi dengan baik. Atau tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup. Sehingga dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi pada sistem organ yang lain. Glukosa yang berada dalam darah. Tidak dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai sumber energi," ujar Dr Sandra Utami Widiastuti saat ditemui okezone di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (10/12/09).

Pada tahun 1985, diabetes telah menjangkit sebanyak 30 juta orang. Dan 15 tahun kemudian, bertambah jadi 150 juta orang. Ini merupakan sebuah isu besar. Pasalnya, tahun 2010, penderita diabetes diprediksi bertambah menjadi 300 juta orang di seluruh dunia.

Di Indonesia, penyakit ini menduduki urutan keempat dari jumlah penderita diabetes terbanyak di seluruh dunia. India berada di urutan pertama, kemudian China di urutan kedua, dan Amerika Serikat di posisi ketiga.

"Sebanyak 8,6 persen penderita diabetes telah terdeteksi saat ini di Indonesia," kata Dr Sandra.

Wanita berkacamata ini menjelaskan, pola hidup yang berubah, kurangnya aktivitas, serta pola makan adalah pemicu seseorang terjangkit diabetes.

Modifikasi dalam berolahraga, menjalani diet, serta menerapkan gaya hidup yang sehat, dapat memperkecil risiko orang terjangkit diabetes.

                                                            sumber: okezone.com